Takumi dan putrinya Hana tinggal di Desa Mizubiki, dekat Tokyo. Suatu hari, warga desa mengetahui rencana pembangunan tempat perkemahan di dekat rumah Takumi. Tempat perkemahan ini menawarkan “pelarian” yang nyaman ke alam bagi penduduk kota. Breathe In (2013) iLK21Ini juga keren: Nonton Mirror Mirror 2012 - Nonton High Society 2018 - Nonton The Last Laugh […]
Luxury138Luxury138
Cara Menonton Film Di Situs Kami
  • Klik "SKIP TRAILER" untuk melewati trailer.
  • Klik tombol ▶️ pada player untuk memulai film.
  • Gunakan Server 2 atau 3 jika player lambat.
  • Bookmark situs kami agar mudah diakses kembali.

Evil Does Not Exist (2023) – IDXXI

IMDB Rated: 7.2 / 10
Original Title : Evil Does Not Exist
7.2 1912

Takumi dan putrinya Hana tinggal di Desa Mizubiki, dekat Tokyo. Suatu hari, warga desa mengetahui rencana pembangunan tempat perkemahan di dekat rumah Takumi. Tempat perkemahan ini menawarkan “pelarian” yang nyaman ke alam bagi penduduk kota.

Ulasan untuk Evil Does Not Exist (2023)

✍️ Ditulis oleh Dian Anggraini

"Evil Does Not Exist" (2023), sebuah film yang secara perlahan tapi pasti merayap masuk ke dalam jiwa, menghadirkan studi karakter yang mendalam di tengah latar pedesaan Jepang yang menawan sekaligus mencekam. Film ini bukan horor jump scare, melainkan horor psikologis yang dibangun dengan sabar, memanfaatkan keheningan dan atmosfer untuk menciptakan ketegangan yang terasa nyata dan menggigit. Sutradara Koji Fukada berhasil menciptakan sebuah karya yang memikat, meskipun dengan tempo yang terkesan lambat bagi sebagian penonton. Dari segi visual, film ini sangat indah. Pemandangan pegunungan yang hijau, rumah-rumah tradisional Jepang yang terawat, dan sungai yang mengalir tenang, semuanya dipotret dengan detail yang luar biasa. Sinematografi yang apik ini kontras dengan tema gelap yang diangkat, menciptakan ketidakseimbangan yang justru menambah daya tarik dan membuat penonton terus bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, keindahan visual ini juga berfungsi sebagai pengalih perhatian, menciptakan rasa nyaman sesaat sebelum ketegangan kembali mencengkeram. Berbicara tentang akting, trio pemain utama memberikan penampilan yang sangat memukau. Hitoshi Omika, dengan ekspresi wajahnya yang penuh misteri dan seringkali tak terbaca, berhasil memerankan karakternya dengan sangat meyakinkan. Ada kedalaman emosi yang terpancar darinya, sebuah kegelisahan terpendam yang perlahan-lahan terungkap seiring berjalannya film. Dia bukan aktor yang bermain dengan gerakan-gerakan besar, tetapi justru dalam kesederhanaannya itu, kekuatan aktingnya terlihat. Ryo Nishikawa, di sisi lain, menghadirkan karakter yang lebih eksplosif, meskipun ekspresinya juga seringkali terkekang oleh konflik batin yang dialaminya. Ekspresinya yang berubah-ubah, antara kecurigaan dan keraguan, begitu natural dan menambah kompleksitas cerita. Ia berhasil membuat penonton merasakan dilema yang dihadapi karakternya. Sementara itu, Ryuji Kosaka, meskipun memiliki porsi peran yang mungkin lebih kecil dibandingkan dua aktor lainnya, tetap mampu memberikan kontribusi penting terhadap keseluruhan narasi. Aktingnya yang tenang dan terukur berhasil menambahkan lapisan lain pada kekacauan emosional yang terjadi di dalam film. Secara keseluruhan, akting ketiganya saling melengkapi dan mendukung. Mereka berhasil menciptakan dinamika karakter yang rumit dan menarik untuk diikuti. Kemampuan mereka untuk menyampaikan emosi melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tatapan mata, adalah kunci keberhasilan film ini dalam membangun ketegangan psikologis yang mendalam. Tanpa akting yang mumpuni dari mereka bertiga, "Evil Does Not Exist" mungkin tidak akan sekuat dan semenarik seperti yang ditampilkan. Tema besar yang diangkat dalam film ini adalah eksplorasi dampak pembangunan modern terhadap kehidupan tradisional dan lingkungan. Film ini menyentuh isu-isu kompleks seperti ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan hilangnya nilai-nilai komunitas. Melalui interaksi antar karakter, penonton diajak untuk merenungkan bagaimana perkembangan teknologi dan industrialisasi dapat mengikis harmoni alam dan hubungan sosial yang telah terjalin lama. Film ini tidak memberikan jawaban yang mudah, malah membiarkan penonton untuk memikirkan sendiri implikasi dari pilihan-pilihan yang diambil oleh karakter-karakternya. Ini adalah kekuatan sekaligus kelemahan film ini; bagi sebagian orang, pendekatannya yang lambat dan introspektif mungkin terasa membosankan, tetapi bagi yang lain, ini adalah sebuah refleksi yang kaya dan bermakna. "Evil Does Not Exist" bukanlah film yang mudah dicerna. Ia mengharuskan penonton untuk aktif terlibat dan berpikir kritis. Tempo yang lambat dan pendekatannya yang realistis mungkin tidak cocok untuk semua orang, tetapi bagi mereka yang mencari sebuah film yang menggugah pikiran dan menghadirkan studi karakter yang mendalam, film ini patut untuk ditonton. Nilai: 7.2/10
Sumber film: Evil Does Not Exist (2023)

Duration: 106 min Min

TMDB Rated: 7.2 / 1912

Release Date: 2023-12-06

Countries: