![]() | ![]() |
Cara Menonton Film Di Situs Kami
- Klik "SKIP TRAILER" untuk melewati trailer.
- Klik tombol ▶️ pada player untuk memulai film.
- Gunakan Server 2 atau 3 jika player lambat.
- Bookmark situs kami agar mudah diakses kembali.
9 Days in Raqqa (2020) – IDXXI
Rated: 6.8 / 10 Leila Mustapha is Kurdish and Syrian. Her battle was Raqqa, the former capital of the Islamic State with 300,000 inhabitants, reduced to a field of ruin after the war. An engineer by training, mayor at just 30, immersed in a world of men, her mission is to rebuild her city, to reconcile, and to establish democracy there. An extraordinary mission. A French writer crosses Iraq and Syria to meet her. In this still dangerous city, she has 9 days to live with Leila and tell her story in a book.
Tonton juga film: The Generator (2017) iLK21
Ini juga keren: Nonton Hooligan Escape The Russian Job 2018 - Nonton Stuck In The Middle 2011 - Nonton Salt 2010 - Nonton Bloodshot 2020 - Nonton Breakout 2023
Ulasan untuk 9 Days in Raqqa (2020)
Sebuah Epik Ketahanan dari Jantung Kehancuran: Ulasan Film '9 Days in Raqqa (2020)'
'9 Days in Raqqa (2020)' adalah sebuah film dokumenter yang tidak hanya sekadar merekam peristiwa, melainkan meresapi setiap lapisan trauma, harapan, dan perjuangan yang tersisa di kota Raqqa, Suriah. Film ini membawa kita pada perjalanan intens selama sembilan hari, sembilan bulan setelah Raqqa dibebaskan dari cengkeraman ISIS, melalui mata seorang jurnalis Prancis-Suriah yang memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya yang luluh lantak. Ini bukan hanya laporan jurnalistik; ini adalah sebuah renungan mendalam tentang konsekuensi perang, daya tahan luar biasa dari jiwa manusia, dan upaya gigih untuk membangun kembali kehidupan di tengah puing-puing.
Sejak menit pertama, film ini berhasil menciptakan atmosfer yang pekat dan jujur. Sinematografinya tidak berusaha mempercantik realitas brutal yang disajikan. Kamera menangkap lanskap kota yang hancur, gedung-gedung yang bolong, dan jalan-jalan yang dipenuhi puing dengan detail yang menohok. Nuansa kelabu, debu yang beterbangan, dan sisa-sisa kehancuran menjadi latar belakang yang konstan, mempertegas skala tragedi yang melanda kota ini. Penggunaan cahaya alami dan gaya pengambilan gambar yang mentah memberikan kesan imersif, seolah kita sendiri berjalan di antara reruntuhan tersebut, menghirup udara yang dipenuhi kenangan pahit.
Namun, di tengah gambaran suram itu, film ini secara cerdik menyoroti kilasan-kilasan kehidupan yang mulai bersemi. Anak-anak yang bermain sepak bola di antara reruntuhan, pedagang yang membuka lapak sederhana di pinggir jalan, dan warga yang bergotong royong membersihkan sisa-sisa bom—kontras ini menciptakan tensi yang unik. Tensi yang bukan berasal dari baku tembak atau pengejaran, melainkan dari perjuangan eksistensial. Ini adalah tensi antara kenangan pahit masa lalu dan upaya keras membangun masa depan, antara trauma yang belum usai dan harapan yang tak pernah padam. Film ini secara efektif menggambarkan ketegangan psikologis yang dirasakan oleh warga, yang hidup dengan bayang-bayang masa lalu sambil mencoba merangkul normalitas baru.
Tema besar yang diangkat oleh '9 Days in Raqqa' sangat jelas: dampak perang yang menghancurkan dan ketahanan luar biasa dari jiwa manusia. Film ini tidak hanya menunjukkan kehancuran fisik, tetapi juga kehancuran sosial dan psikologis yang ditinggalkan perang. Kita melihat bagaimana warga Raqqa berjuang tidak hanya untuk membangun kembali rumah mereka, tetapi juga untuk menyatukan kembali komunitas, menghadapi kehilangan yang tak terukur, dan mencari makna di tengah kekacauan. Ini adalah studi mendalam tentang ketahanan, tentang bagaimana sebuah masyarakat mencoba menemukan kembali identitas dan tujuan setelah menghadapi horor yang tak terbayangkan.
Meskipun film dokumenter tidak melibatkan 'akting' dalam pengertian tradisional, namun kehadiran dan ekspresi dari individu-individu yang terekam kamera, terutama sosok sentral, memiliki dampak yang setara bahkan lebih kuat dari sebuah penampilan akting. Di sini, kita akan membahas dua 'elemen performatif' utama yang menopang narasi film ini.
Kualitas Kehadiran Sang Jurnalis Prancis-Suriah
Sosok jurnalis Prancis-Suriah ini adalah jangkar emosional film. Kehadirannya di layar sangat tulus, berani, dan penuh empati. Ia bukan sekadar narator atau pengamat; ia adalah jembatan emosional bagi penonton untuk memahami penderitaan dan harapan warga Raqqa. Dari sorot matanya, kita bisa merasakan campur aduk emosi: kesedihan mendalam atas kota kelahirannya yang luluh lantak, frustrasi terhadap keadilan yang tak kunjung datang, namun juga empati dan tekad untuk memberikan suara bagi mereka yang terpinggirkan.
Ia tidak memerankan sebuah karakter; ia menjalani perannya sebagai seorang jurnalis dengan integritas dan keberanian yang luar biasa. Kemampuannya untuk tetap otentik di hadapan kamera, berinteraksi dengan warga dengan kepekaan yang mendalam, dan mengungkapkan perasaannya tanpa pretensi, adalah inti dari keberhasilan film ini. Ia menjadi titik fokus yang stabil di tengah kekacauan, memandu kita melalui kisah-kisah pribadi yang menyayat hati. Kedalaman emosi yang ia tampilkan, mulai dari kesedihan yang hening hingga kemarahan yang terkendali, terasa sangat nyata dan mengena.
Kualitas Keaslian Warga Raqqa yang Ditemui
Selain sang jurnalis, ada juga sosok-sosok lokal yang tampil dalam film. Meskipun bukan 'aktor' dalam artian tradisional, kontribusi mereka tak kalah penting. Ekspresi nyata dari para warga yang diwawancarai—mulai dari senyuman pahit seorang ibu yang kehilangan anaknya, tatapan kosong seorang anak yang menyaksikan kekejaman, hingga semangat membara seorang pria yang ikut membersihkan puing—semuanya menyatu membentuk tapestri emosi yang mendalam. Mereka menunjukkan keberanian untuk berbagi kisah, menampilkan kerentanan, dan secara kolektif meningkatkan kredibilitas dan dampak emosional film. Setiap individu yang berbagi ceritanya menambahkan lapisan kedalaman pada narasi keseluruhan, membuat kita merasakan denyut nadi kehidupan di Raqqa.
Secara keseluruhan, kontribusi dari sang jurnalis yang memiliki kehadiran yang kuat dan otentik, ditambah dengan kejujuran dan keberanian warga Raqqa untuk berbagi kisah mereka, menjadi fondasi kokoh yang mengangkat film ini. Keaslian yang mereka pancarkan bukan hanya sekadar 'akting' yang meyakinkan, melainkan sebuah penampilan kemanusiaan yang nyata, yang secara efektif membuat film ini jauh melampaui sekadar laporan jurnalistik dan menjadikannya pengalaman sinematik yang menggugah jiwa. Tanpa keaslian dan keberanian mereka, pesan film ini tidak akan sampai sedalam ini.
Film ini secara cerdas menyoroti berbagai lapisan dampak konflik. Bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang apa yang tersisa setelahnya. Kita diajak melihat bagaimana birokrasi, bantuan internasional, dan politik lokal saling berinteraksi (atau seringkali gagal berinteraksi) dalam upaya rekonstruksi. Ada pesan kuat tentang pentingnya jurnalisme yang berani dan bertanggung jawab, yang bersedia terjun langsung ke lapangan untuk mengungkap kebenaran dan memberi suara kepada yang tak bersuara.
Pada akhirnya, '9 Days in Raqqa' adalah pengingat yang menyakitkan namun esensial tentang biaya kemanusiaan dari perang. Ini adalah seruan untuk empati, untuk memahami bahwa di balik berita utama yang cepat berlalu, ada jutaan cerita pribadi tentang penderitaan, kehilangan, dan harapan yang tak terpadamkan. Film ini meninggalkan kesan mendalam, memaksa kita untuk merenungkan arti ketahanan dan sejauh mana manusia bisa bertahan dan bahkan menemukan keindahan di tengah kehancuran.
Dengan visual yang jujur, narasi yang mengalir, dan sentuhan kemanusiaan yang kuat, '9 Days in Raqqa' berhasil menjadi lebih dari sekadar dokumentasi sejarah; ia adalah sebuah surat cinta pahit untuk sebuah kota yang menolak menyerah. Film ini patut disaksikan, tidak hanya untuk memahami konflik Suriah secara lebih mendalam, tetapi juga untuk merenungkan makna keberanian dan harapan dalam menghadapi cobaan terbesar sekalipun. Sebuah karya yang akan terus membekas lama setelah layar gelap.
Skor akhir: 8.3/10
Sumber film: 9 Days in Raqqa (2020)

